Resume dan Resensi

IMGJudul Buku    : Teori-Teori Kepribadian

Pengarang      : E. Koswara

Tahun             : 1991

Penerbit          : PT. ERESCO BANDUNG

 

Psikologi Kepribadian dan Teori Kepribadian

Dalam psikologi kepribadian dipelajari kaitan antara ingatan atau pengamatan dengan perkembangan, penyesuaian individu, dan seterusnya. Intinya semua faktor yang mempengaruhi tingkah laku manusia merupakan objek penelitian para peneliti psikologi kepribadian. Tujuan utama dari studi psikologi kepribadian itu sendiri adalah untuk mempelajari manusia secara total dan menyeluruh. Salah satu ciri utama psikologi kepribadian yaitu pada penggunaan metode-metode yang empiris, dapat dipercaya dan memiliki ketepatan dalam upaya memahami manusia. Sasaran utama dari psikologi kepribadian adalah memperoleh informasi mengenai tingkah laku manusia yang selanjutnya dapat mendorong individu-individu agar bisa hidup secara penuh dan memuaskan serta mampu mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya secara optimal.

Teori kepribadian merupakan bagian terpenting sebagai landasan upaya ilmiah untuk memahami tingkah laku manusia itu sendiri. Hall dan Lindzey (1970) berpendapat bahwa teori kepribadian itu adalah sekumpulan anggapan atau konsep-konsep yang satu sam lain berkaitan mengenai tingkah laku manusia. Mereka berpendapat bahwa teori kepribadian seharusnya disusun sedemikian rupa yang memungkinkan para pemakainya bisa menggunakan teori kepribadian tersebut untuk keperluan empiris atau tujuan praktis. Tetapi, dalam hal ini para ahli psikologi kepribadian cenderung mengembangkan sistem yang berbeda dari apa yang telah dikemukakan oleh Hall dan Lindzey (1970). Dalam teori kepribadian harus memiliki fungsi yang sama. Yang pertama adalah fungsi deskriptif (menguraikan atau menjelaskan), dimana fungsi ini bisa mengorganisasi dan menerangkan tingkah laku atau kejadian yang dialami individu secara sistematis. Yng kedua adalah fungsi prediktif (meramalkan) yang berguna untuk menunjukkan  agar konsep-konsep teori bisa diuji secara empiris dengan kemungkinan  diterima atau ditolak.

Teori kepribadian bisa dievaluasi berdasarkan enam kriteria di bawah ini:

  1. Verifiabilitas, menekankan teori kepribadian haruslah bertumpu pada konsep-konsep yang jelas dan memiliki kaitan yang logis sat sama lain yang memungkinka teori tersebut bisa diverifikasi oleh peneliti lain.
  2. Nilai heuristik, mengevaluasi sejauh mana suatu teori mengundang penelitian untuk dilakukan,
  3. Konsisten internal, menekankan bahwa suatu teori kepribadian janaganlah mengandung pertentangan di dalamnya
  4. Kehematan, menekankan teori kepribadian harus disusun berdasrkan konsep yang sidikit-dikitnya.
  5. Keluasan, menunjuk kepada bentanagn dan keanekaragaman fenomena yang bisa diliput oleh teori kepribadian.
  6. Signifikansi fungsi, menekankan bahwa teori kepribadian itu bisa dievaluasi dalam rnagka membantu orang-orang dalam memahami tingkah laku manusia sehari-hari.

Kepribadian menurut psikologi yaitu memandang kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya (George Kelly). Teoris lain, Galdon Alport merumuskan kepribadian sebagai sesuatu yang terdapat dalam individu yang bisa membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan. Alport menggunakan istilah psikofisik dengan maksud bahwa jiwa dan raga manusia tidak dapat dipisahkan. Sedangkan Freud menjelaskan kepribadian sebagai suatu struktur dari tiga sistem, yaitu id, ego, dan superego.

Faktor-faktor yang mempengaruhi teori kepribadian antara lain adalah faktor historis masa lampau yang terdapat empat faktor utama yaitu pengobatan klinis eropa, psikometrik, behaviorisme, dan psikologi gestalt. Yang kedua adalah faktor kontemporer yang berupa perluasan dalam area atau bidang studi yang biasanya dilihat dari psikologi lintas budaya, studi tentang proses-proses kognitif, dan motivasi.

Berbicara tentang psikologi kepribadian pastilah terdapat anggapan dasar tentang manusia yang diperoleh melalui hubungan pribadi atau pengalaman-pengalaman sosial yang mempengaruhi tindakan individu terhadap sesamanya. Berikut merupakan anggapan tentang manusia:

  1. Kebebasan-ketidakbebasan
  2. Rasionalitas-irasionalitas
  3. Holisme-eksmentalisme
  4. Konstitualisme-evironmentalisme
  5. Berubah-tak berubah
  6. Subjektivitas-objektivitas
  7. Proaktif-reaktif
  8. Homeostatis-heterostatis
  9. Dapat diketahui-tidak dapat diketahui

Sigmund Freud: Teori Kepribadian Psikoanalisa

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Freud menerangkan kepribadian sebagai struktur yang terdiri atas id, ego, dan superego. Id merupakan sistem kepribadian yang paling dasar yang di dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan yang berusaha mencapai keadaan menyenangkan. Sedangkan ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada dunia objek atau kenyataan yang menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Ego memformulasikan rencana bagi pemuasan kebutuhan dan menguji apakah rencana tersebut bisa dilaksanakan atau tidak dengan melihat keadaan lingkungan atau situasi yang terjadi. Sekilas akan terlihat antara id dan ego akan ada pertentangan atau konflik.Sedangkan superego adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik-buruk). Superego terbentuk melalui penerapan nilai-nilai atau aturan-aturan yang berlaku dalam diri individu.

Teori psioanalisa mengenai perkembangan kepribadian berlandaskan dua premis. Pertama kepribadian individu dibentuk oleh berbagai jenis pengalaman masa kanak-kanak awal. Kedua, energi seksual yang ada sejak lahir dan kemudian berkembang melalui serangkaian tahapan psikoseksual yang bersumber pada proses-proses naluriah organisme. Berikut merupakan fase-fase perkembangan psikoseksual yang dimaksud.

  1. Fase oral, berlangsung pada tahun pertama dari kehidupan individu dan daerah paling penting adalah mulut sebagai pemuasan kebutuhan seperti makan dan minum.
  2. Fase anal, dimulai pada tahun kedua sampai tahun ketiga dari kehidupan individu yang fokus dari mulut ke daerah dubur yang memperoleh kepuasannya dengan menahan feses (kotoran) dan mulailah anak diperkenalkan tentang aturan-aturan kebersihan.
  3. Fase falik, pada tahun keempat atau kelima dimana sasarannya dialihkan ke alat kelamin.
  4. Fase genital, yaitu pada masa pubertas dimana individu mengalami peningkatan dorongan seksual dan mulai menaruh perhatian pada lawan jenis

B.F. Skinner: Teori Kepribadian Behaviorisme

Skinner menolak penjelasan tingkah laku yang didasarkan pada keberadaan self, ego, dan sebagainya. Menurutnya, mekanisme-mekanisme mentalistik dan intrapsikis bersumber pada pemikiran animisme. Menurut Skinner individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan perilakunya melalui belajar dimana pin pentingnya terdapat pada faktor lingkungan.

Dari perspekrif behaviorisme Skinner, studi tentang kepribadian melibatkan pengujian yang sistematis dan pasti atas sejara hidup atau pengalaman belajar dan latar belakang genetik atau faktor bawaan yang khas dari individu.

Abraham Maslow: Teori Kepribadian Humanistik

Psikologi humanistik sesungguhnya bukan suatu organisasi tunggal dari teori atau sistem, melainkan lebih tepat jika disebut sebagai gerakan. Tokoh-tokoh gerakan ini berpijak pada aliran filsafat modern yaitu eksistensialisme yaitu sebuah aliran yang mempermasalahkan manusia sebagai individu dan sebagai problema yang unik keberadaannya. Paham ini menolak bahwa manusia ditempatkan semata-mata sebagai hasil bawaan atau lingkungan. Mereka percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri nasib dan wujud dari kebeadannya, serta bertanggung jawab atas pilihannya tersebut.

Ajaran-ajaran yang diajarkan pada psikologi humanistik antara lain:

  1. Individu sebgai keseluruhan yang integral
  2. Ketidakrelevanan penyelidikan dengan hewan
  3. Pembawaan baik manusia
  4. Potensi kreatif manusia
  5. Penekanan pada kesehatan psikologis

Maslow meyakini bahwa kebutuhan manusia yang tersusun bertingkat dirinci ke dalam lima tingkatan kebutuhan, yakni:

  1. Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis
  2. Kebutuhan akan rasa aman
  3. Kebutuhan akan cinta dan memiliki
  4. Kebutuhan akan rasa harga diri
  5. Kebutuhan akan aktualisasi diri

KELEMAHAN & KELEBIHAN BUKU

Judul buk :       TEORI-TEORI KEPRIBADIAN
Pengarang  :       E. Koswara
Penerbit :       PT. Eresco Bandung
Tebal :       viii + 148 halaman
Tahun terbit  :       Cetakan Pertama 1986
                                   Cetakan Kedua 1991
ISBN   :       979-8020-10-3
Kelebihan
  1. Bahasa yang digunakan dalam buku ini, jelas sehingga mudah untuk dimengerti.
  2. Pembahasan tentang teori-teori kepribadian dijelaskan secara jelas dan terperinci sehingga kita mengetahui apa itu kepribadian, teori apa saja yang menjelaska tentang kepribadian dan lain-lain.
  3.  Tidak hanya itu, dibuku ini juga dijelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi teori kepribadian.
  4.  Di buku ini juga menjelaskan tentang teori-teori kepribadian menurut para ahli psikologi, seperti : Sigmund Freud (Psikoanalisis), B. F. Skinner (Behaviorisme), dan Abraham Maslow (Humanistik).
  5. Bukan hanya teori-teori kepribadian menurut para ahli psikologi, seperti : Sigmund Freud, B. F. Skinner, dan Abraham Maslow tapi dibuku ini juga menceritakan tentang riwayat hidup singkat mereka.
  6. Kita juga disajikan tentang penerapan Psikoanalisis, Behaviorisme, dan Humanistik dalam psikoterapi.
Kelemahan
  1. Cover buku ini terlihat biasa sehingga membuat kurang ketertarikkan seseorang untuk membacanya.
  2. Memiliki keterbatasan ruang untuk pembahasan secara lebih dalam.

Review Kecerdasan Emosional, oleh Daniel Goleman

Ketika orang diminta untuk peringkat pentingnya berbagai atribut, dalam diri mereka sendiri, dalam pasangan yang potensial, atau pada manusia secara umum, kecerdasan membuat menunjukkan terhormat tapi jarang di bagian atas daftar.

Tetapi ketika seseorang ditantang dalam kehidupan nyata, ketika kehormatan itu, keindahan, kebaikan hati-Nya, industri, atau kejujuran nya dipertanyakan, tidak memprovokasi seperti reaksi defensif yang kuat sebagai saran bahwa dia tidak terlalu terang.

Jika seseorang ditanya tentang harapannya mengenai distribusi hidung-ke-ekor panjang dari suatu populasi yang tidak diketahui hewan (mari kita asumsikan mereka semua dewasa dan semua jenis kelamin yang sama, demi kesederhanaan), satu tanpa ragu akan menjawab bahwa, dalam segala kemungkinan, beberapa akan sangat besar, beberapa akan sangat kecil, dan sebagian besar akan berkerumun di suatu tempat di tengah. Kami berharap ini berdasarkan pengalaman kami sendiri dan sebagai akibat terkenal prinsip variasi genetik dan seleksi.

Jika seseorang diminta untuk berspekulasi tentang hasil pengukuran yang sama pada populasi genetik terpisah namun serupa, orang akan menjawab bahwa distribusi yang sama akan ditemukan di masing-masing, tapi dengan cara yang berbeda.

Tetapi ketika populasi yang terlibat berbeda “ras” manusia dan pengukuran harus dilakukan adalah kecerdasan bukan dimensi fisik, harapan-harapan tiba-tiba lenyap, digantikan oleh profesi saleh kesetaraan dari semua masyarakat.

Kita telah menyentuh pada beberapa aspek kunci. Orang mengerti, dengan cara, sangat langsung naluriah, kecerdasan yang mendasar dan memainkan peran kunci dalam efektivitas dalam hidup dan dalam kemampuan untuk merumuskan pertanyaan mendalam yang menyebabkan manusia mengejar ke arah makna. Jadi gagasan bahwa beberapa orang, dan kelompok orang tertentu, secara inheren dan diberkahi unalterably baik daripada yang lain dengan atribut mendasar membangkitkan ketakutan yang mendalam, persaingan suku dan kebencian, dan kompensasi banyak-diratakan untuk impuls primitif sehingga tidak dapat diterima pada orang yang dianggap beradab.

Pada tahun 1995, seperti gaung dari dering The Bell Curve telah kita peka terhadap isu-isu polarisasi yang melibatkan ras, intelijen dan hak istimewa dalam masyarakat, buku lain muncul, Emotional Intelligence, oleh Daniel Goleman, terkenal karena tulisan-tulisannya tentang hal rohani materi dan pada “ilmu-ilmu perilaku dan otak,” sepertinya menawarkan sudut pandang dengan potensi untuk mendamaikan pandangan yang berlawanan dan tenang air di daerah ini eksplosif.

Sampul Emotional Intelligence menyatakan hal itu untuk menjadi “buku terobosan yang mengubah apa artinya menjadi cerdas”-dan Goleman tidak, memang, upaya seperti sebuah redefinisi. Untuk pembaca yang kritis, pertanyaannya adalah: sampai sejauh mana dia berhasil?

Sebuah bagian dalam bab pendahuluan yang berjudul “Tantangan Aristoteles” menyajikan ringkasan thumbnail dari tesis utama buku ini:

Sekarang ilmu pengetahuan akhirnya bisa berbicara dengan otoritas atas pertanyaan-pertanyaan mendesak dan membingungkan jiwa paling irasional, untuk peta dengan beberapa presisi hati manusia.

Pemetaan ini menawarkan sebuah tantangan bagi mereka yang berlangganan pandangan sempit tentang kecerdasan, dengan mengatakan bahwa IQ merupakan genetik mengingat bahwa tidak dapat diubah oleh pengalaman hidup, dan bahwa takdir kita dalam kehidupan sebagian besar tetap oleh bakat. Argumen yang mengabaikan pertanyaan yang lebih menantang: Apa yang bisa kita ubah yang akan membantu anak-anak kita tarif lebih baik dalam hidup? Faktor-faktor apa yang berperan, misalnya, ketika orang-orang IQ tinggi menggelepar dan orang-orang dari IQ sederhana melakukannya dengan sangat baik? Saya berpendapat bahwa perbedaan sering kali terletak pada kemampuan yang disebut kecerdasan di sini emosional, yang mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, dan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri.Dan keterampilan ini, sebagaimana akan kita lihat, dapat diajarkan kepada anak-anak, memberi mereka kesempatan yang lebih baik untuk menggunakan potensi intelektual apapun lotre genetik mungkin telah memberikan mereka.

Dalam Bab 1, “Apakah Emosi?”, Dan 2, “Anatomi Pembajakan Emosi,” Goleman mengeksplorasi dasar syaraf emosi dan nilai adaptif nya. Dia atribut emosionalitas nonadaptive terhadap perubahan dalam lingkungan manusia selama era modern.

Periode panjang evolusi ketika tanggapan emosional yang dipalu ke dalam bentuk realitas yang tentu lebih berat dari manusia yang paling bertahan sebagai suatu spesies setelah dimulainya sejarah tertulis. Ini adalah waktu ketika bayi beberapa selamat ke masa dan orang dewasa beberapa tiga puluh tahun, ketika predator bisa menyerang setiap saat, ketika keanehan kekeringan dan banjir berarti perbedaan antara kelaparan dan kelangsungan hidup. Tetapi dengan kedatangan pertanian dan bahkan masyarakat manusia yang paling dasar, kemungkinan untuk bertahan hidup mulai berubah secara dramatis. Dalam sepuluh ribu tahun lalu, ketika kemajuan ini memegang seluruh dunia, tekanan ganas yang telah memegang populasi manusia di cek terus mereda.

Tekanan-tekanan yang sama telah membuat respons emosional kita sangat berharga untuk kelangsungan hidup; karena mereka memudar, begitu pula kebaikan fit dari bagian dari repertoar emosi kita. Sementara di masa lalu kuno kemarahan rambut memicu mungkin telah menawarkan keunggulan penting untuk kelangsungan hidup, ketersediaan persenjataan otomatis untuk tiga belas-year-olds telah membuatnya terlalu sering reaksi bencana.

Meskipun sulit untuk membantah bahwa isn’ta ada sebutir kebenaran dalam hal ini, salah satu tersangka bahwa itu bukan keseluruhan cerita. Adalah kapasitas organisme untuk respon emosional keras-kabel set refleks sesuai dengan keadaan tertentu dari masa lalu manusia, atau itu, seperti intelek manusia, tujuan umum mesin pengolahan kekuatan besar, dengan potensi untuk beradaptasi dengan kondisi tidak diketahui dan tak terduga? Jika yang terakhir, apakah ada faktor lain membatasi ekspresi penuh, di luar hal baru dari lingkungan manusia ini?

Salah satu faktor tersebut pasti struktur pertahanan ego, hasil interaksi dari tantangan eksternal dan pola persepsi dan respon sudah ada. Faktor utama adalah trauma molding, tekanan kronis, dan pengalaman berhasil mengatasi. Struktur defensif telah dikomandoi bagian terbesar dari kekuatan komputasi dari organisme. Setiap fungsi yang terkena dampak; sistem kelebihan beban dan berjalan lambat. Jika tanggapan pusat lambat, keputusan dibuat oleh relexes perifer, melewati tingkat yang lebih tinggi struktur saraf dan pola. Hal ini membatasi respon dari baik pikiran dan perasaan.

Goleman memberikan perhatian kepada keterkaitan dinamis dari korteks (kursi rasionalitas) dan sistem limbik, bagian otak mana emosi diproses.

Dalam satu studi, misalnya, anak laki-laki sekolah dasar yang memiliki atas rata-rata nilai IQ tapi tetap lakukan buruk di sekolah ditemukan melalui tes neuropsikologi untuk memiliki gangguan fungsi korteks frontal. Mereka juga impulsif dan gelisah, sering mengganggu dan dalam kesulitan-menunjukkan kontrol prefrontal yang rusak atas limbik mereka mendesak. Meskipun potensi intelektual mereka, ini adalah anak-anak pada risiko tertinggi untuk masalah seperti kegagalan akademis, alkoholisme, dan kriminalitas-bukan karena kecerdasan mereka kekurangan, tetapi karena kontrol mereka atas kehidupan emosional mereka terganggu. Otak emosional, cukup terpisah dari daerah kortikal disadap oleh tes IQ, kontrol amarah dan kasih sayang sama.

Menggambar pada karya Dr Antonio Damasio, seorang ahli saraf di University of Iowa College of Medicine, Goleman berpendapat bahwa “keputusan mereka begitu buruk karena mereka telah kehilangan akses untuk pembelajaran emosional mereka.” Ini benar cukup, tetapi sangat disayangkan yang Goleman mengambil pembelajaran emosional terutama dalam arti moderasi impuls emosional primitif oleh rasional pikiran-apa yang biasanya dan agak menyesatkan disebut “pengendalian diri”-dengan sedikit perhatian pada potensi sirkuit emosional manusia sebagai instrumen dari halus dan tersedia melalui intelek cepat persepsi. Ini tidak berarti bahwa kepekaan seperti perceptiveness sosial tidak diakui, mereka yang disebutkan dalam konteks utilitarian yang mengurangi mereka untuk komponen “tas trik” yang dibutuhkan untuk mendapatkan oleh dalam hidup.

Dalam bagian mengungkapkan dalam Bab 3 dari Emotional Intelligence, “Kenali Diri,” Goleman membahas mode refleksif dari pengalaman yang dia sebut “kesadaran diri” atau “pengamatan-diri”:

Ini kualitas kesadaran ini mirip dengan apa yang Freud digambarkan sebagai “perhatian merata melayang,” dan yang ia memuji kepada mereka yang akan melakukan psikoanalisis. Perhatian tersebut mengambil apa pun yang melewati kesadaran dengan ketidakberpihakan, sebagai saksi yang tertarik namun tidak reaktif. Beberapa psikoanalis menyebutnya “ego mengamati,” kapasitas kesadaran diri yang memungkinkan analis untuk memantau reaksi sendiri untuk apa yang pasien katakan, dan yang memelihara proses asosiasi bebas dalam pasien.

Seperti kesadaran diri tampaknya membutuhkan neokorteks diaktifkan, khususnya bahasa daerah, selaras dengan mengidentifikasi dan memberi nama emosi sedang terangsang. Kesadaran diri bukanlah perhatian yang akan terbawa oleh emosi, berlebihan dan memperkuat apa yang dirasakan. Sebaliknya, ini adalah modus netral yang mempertahankan diri bahkan di tengah reflectiveness emosi yang bergolak. William Styron tampaknya menggambarkan sesuatu seperti ini fakultas pikiran dalam menulis depresi yang mendalam, menceritakan arti “menjadi didampingi oleh kedua diri seorang pengamat wraithlike yang, tidak berbagi demensia ganda, adalah mampu untuk menonton dengan keingintahuan memihak perjuangan sebagai temannya. “

Bagian ini menunjukkan kegagalan untuk membedakan antara kesadaran dan berpikir, suatu saham Goleman buta spot dengan Freud. Tapi tanpa pemahaman yang jelas tentang perbedaan antara tayangan langsung dari dirinya sendiri dan penilaian mental yang pria tidak pernah bisa obyektif.

Dalam bab yang sama, Goleman menjelaskan kelas orang, yang dikenal dalam literatur psikiatri sebagai penderita aleksitimia, yang tidak dapat dgn ​​kata-kata perasaan mereka, yang setara dengan Goleman tidak menyadari dari mereka. Mendengarkan manusia mencoba untuk berkomunikasi tentang pengalaman emosional mereka menunjukkan bahwa kita semua alexithymic untuk tingkat signifikan. Salah satu alasan untuk ini adalah bahwa studi fenomena interior tidak dianjurkan oleh kebanyakan orangtua, juga tidak termasuk dalam kurikulum sekolah standar. Hal ini tentu juga merupakan faktor dalam penampilan sering orang-orang cerdas, berpendidikan, dan sensitif yang tidak memahami perbedaan antara pikiran dan kesadaran.

Pada akhir Bab 3, di bagian yang disebut “Pipa-Sadar-an,” tulis Goleman:

Beberapa dari kita secara alami lebih selaras dengan mode khusus pikiran emosional yang simbolis: metafora dan simile, bersama dengan puisi, lagu, dan dongeng, semua cor dalam bahasa hati. Demikian juga mimpi dan mitos, di mana asosiasi longgar menentukan aliran narasi, patuh dengan logika pikiran emosional. Mereka yang memiliki attunement alami untuk jantung mereka sendiri suara yang bahasa emosi-yang pasti akan lebih mahir mengartikulasikan pesan di dalamnya, baik sebagai penulis lagu, novelis, atau psikoterapis. Ini attunement batin harus membuat mereka lebih berbakat dalam memberikan suara kepada “kebijaksanaan ketidaksadaran”-makna yang dirasakan impian dan fantasi, simbol-simbol yang mewujudkan keinginan kita yang terdalam.

Kesadaran diri adalah dasar wawasan psikologis, ini adalah fakultas yang banyak psikoterapi berarti untuk memperkuat. Memang, model Howard Gardner kecerdasan intrapsikis adalah Sigmund Freud, mapper besar dinamika rahasia jiwa itu. Seperti Freud menjelaskan, banyak dari kehidupan emosional tidak sadar; perasaan yang membangkitkan dalam diri kita tidak selalu melewati ambang pintu ke dalam kesadaran. Verifikasi empiris ini aksioma psikologis datang, misalnya, dari percobaan pada emosi tak sadar, seperti yang luar biasa menemukan bahwa orang-orang membentuk kesukaan yang pasti untuk hal-hal mereka bahkan tidak menyadari bahwa mereka telah melihat sebelumnya. Emosi apapun dapat-dan sering-tidak sadar.

Hal ini lebih dekat dengan mengakui potensi emosi sebagai alat pengetahuan, tetapi Goleman gagal untuk memahami apa yang baik Freud maupun Gurdjieff mengerti-bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” adalah kesadaran riil manusia, sementara apa yang dia sebut kesadarannya tambal sulam pengkondisian dan reaksi.

Bukti lebih lanjut dari kesalahpahaman mendasar muncul dalam ayat berikut dari Bab 5, “Budak Passion”:

Dalam kali ini, satu tanda dari kapasitas untuk pengaturan-diri emosional dapat mengenali ketika agitasi kronis pada otak emosional terlalu kuat untuk diatasi tanpa bantuan farmakologis. Sebagai contoh, dua pertiga dari mereka yang menderita depresi manik tidak pernah dirawat karena gangguan ini. Tetapi lithium atau obat baru dapat menggagalkan siklus karakteristik melumpuhkan depresi bergantian dengan episode manik bahwa campuran kegembiraan kacau dan kemegahan dengan iritasi dan marah.Satu masalah dengan manik-depresi adalah bahwa sementara orang yang dalam pergolakan mania mereka sering merasa begitu terlalu percaya diri bahwa mereka tidak melihat perlunya untuk bantuan apapun meskipun keputusan buruk mereka membuat. Dalam gangguan emosional yang berat pengobatan kejiwaan menawarkan alat untuk mengelola kehidupan yang lebih baik.

Apa yang hilang di sini merupakan apresiasi dari efek penidur dari psychiatiric obat-dan, yang lebih penting, dari keutamaan kesadaran atas fungsi. Jika seseorang mencari kehidupan yang tenang, sedikit lithium, Prozac, atau Zoloft bisa menjadi bantuan besar, tetapi jika salah satu adalah mencari kesadaran dan pengalaman langsung dari alam yang sejati orang itu, racun-racun bagi jiwa yang terbaik dibiarkan saja.

Goleman memberikan perhatian kepada negara depresi, seperti dalam ayat berikut:

Kecenderungan untuk depresi untuk mengabadikan dirinya nuansa bahkan jenis gangguan orang memilih. Ketika orang depresi diberi daftar cara-cara optimis atau lamban untuk mendapatkan pikiran mereka dari sesuatu yang menyedihkan, seperti pemakaman seorang teman, mereka memilih lebih dari kegiatan melankolis. Richard Wenzlaff, University of Texas psikolog yang melakukan penelitian ini, menyimpulkan bahwa orang yang sudah depresi perlu melakukan upaya khusus untuk mendapatkan perhatian mereka pada sesuatu yang benar-benar optimis, berhati-hati untuk tidak sengaja memilih sesuatu-sebuah film film yg terlalu sentimentil, suatu tragis baru-yang akan menyeret suasana hati mereka turun lagi.

Meskipun sengaja berkonsentrasi pada sesuatu yang “optimis” dapat efektif dalam menghilangkan suasana hati yang buruk biasa, tidak bekerja sangat baik untuk menangani depresi berat berkepanjangan.

Saya telah beruntung. Saya memiliki sebuah disposisi optimis dan jarang menjadi depresi. Tapi ketika istri pertama saya meninggalkan saya, saya depresi selama dua tahun (meskipun saya berhasil mempertahankan tingkat minimum dari fungsi), jadi saya tahu sesuatu tentang depresi.

Ketika saya mengalami depresi berat, dipaksa keceriaan dan gangguan menyenangkan melakukan apa-apa untuk saya, tapi ada sesuatu yang lain yang bekerja sihir.

Memperhatikan bahwa kemarahan adalah dorongan emosional yang paling sulit untuk menolak, Golemean membuktikan mitos yang populer bahwa “ventilasi” adalah cara yang efektif untuk mengurangi kemarahan.

Dalam keadaan marah, orang beranggapan bahwa mereka baik harus bertindak di atasnya (seringkali dengan konsekuensi yang mengerikan bagi dirinya dan orang lain) atau mendorong keluar dari kesadaran. Ini bukan satu-satunya alternatif, tetapi alternatif ketiga ini jarang dianggap serius: untuk mengalami kemarahan tanpa mengambil secara pribadi, seolah-olah kemarahan milik karakter dalam bermain, dan dengan demikian tidak makan.

Alasan untuk ini sangat sederhana. Untuk tinggal di depan kemarahan seseorang tanpa diambil oleh itu membutuhkan banyak energi dan kedewasaan sikap yang jauh melampaui menunda pemuasan dorongan. Meskipun selalu ada nilai dalam kesadaran diri, menghitung sampai sepuluh sebelum seseorang memukul adalah penggunaan praktis yang terbatas kecuali salah mengambil keuntungan dari interval untuk mempertimbangkan kembali dan membatalkan tindakan keliru (kadang-kadang impuls terlalu kuat untuk menolak tapi dapat diarahkan -misalnya, memukul bantal, bukan memukul seseorang).

Dalam Bab 5, “The Aptitude Guru,” tulis Goleman:

Apa yang tampaknya terpisah mereka di bagian paling atas dari pencarian kompetitif dari orang lain kemampuan kira-kira sama adalah sejauh mana, dimulai pada awal kehidupan, mereka dapat mengejar rutin praktek yang sulit selama bertahun-tahun. Dan ketabahan yang tergantung pada emosi-sifat antusiasme dan ketekunan dalam menghadapi kemunduran-di atas segalanya.

Antusiasme dan ketekunan tentunya bahan penting dalam mengejar dilakukan serius, tetapi Goleman gagal mengakui peran kunci kecerdasan di berbagai bidang kegiatan. Seseorang yang IQ kurang dari 150 (satu di 1000) tidak akan pernah menjadi ahli matematika besar, seorang fisikawan teoritis yang besar, atau filsuf besar, tidak peduli seberapa kuat motivasi dia.

Goleman melanjutkan:

Payoff ditambahkan untuk kesuksesan hidup dari motivasi, selain dari kemampuan bawaan lainnya, dapat dilihat dalam kinerja yang luar biasa dari mahasiswa Asia di sekolah-sekolah Amerika dan profesi. Satu review menyeluruh terhadap bukti-bukti menunjukkan bahwa Asia-Amerika anak-anak mungkin memiliki keuntungan rata-rata IQ lebih putih hanya dua atau tiga poin.

Kajian, seperti ditunjukkan dalam catatan kaki, yang terkandung dalam The Bell Curve. Sebuah kesimpulan serupa muncul dalam Faktor g, oleh Dr Arthur R. Jensen (New York: The Free Press, 1997). Goleman melanjutkan:

Namun berdasarkan profesi, seperti hukum dan kedokteran, bahwa banyak orang Asia-Amerika berakhir di, sebagai kelompok mereka berperilaku seolah-olah IQ mereka jauh lebih tinggi-setara dengan 110 untuk Jepang-Amerika dan 120 untuk Cina Amerika. Alasannya tampaknya bahwa dari tahun-tahun awal sekolah, anak-anak Asia bekerja lebih keras dibandingkan kulit putih. Sanford Dorenbusch, seorang sosiolog Stanford yang meneliti lebih dari sepuluh ribu siswa sekolah menengah, ditemukan bahwa Asia-Amerika menghabiskan 40 persen lebih banyak waktu mengerjakan pekerjaan rumah daripada siswa lain. “Sementara orang tua Amerika yang paling bersedia menerima daerah lemah anak dan menekankan kekuatan, untuk Asia, sikap adalah bahwa jika Anda tidak melakukan dengan baik, jawabannya adalah untuk belajar kemudian di malam hari, dan jika Anda masih tidak melakukan baik, untuk bangun dan studi sebelumnya di pagi hari. Mereka percaya bahwa setiap orang dapat melakukannya dengan baik di sekolah dengan usaha yang benar “Singkatnya, etika kerja yang kuat diterjemahkan menjadi motivasi yang lebih tinggi budaya, semangat, dan ketekunan-keunggulan emosional..

Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa siswa Amerika menghabiskan banyak waktu pada pekerjaan rumah sebagai mahasiswa di negara-negara lain, seperti Jepang, yang secara konsisten mengungguli Amerika Serikat dalam prestasi akademik.

Ini bukan hanya masalah jam dimasukkan ke dalam, ada perbedaan yang signifikan dalam efisiensi proses pembelajaran. Alasan untuk hal ini termasuk resistensi Amerika ‘lebih besar kepada otoritas dari semua jenis dan status relatif rendah dan kompensasi guru di Amerika Serikat.

Tapi antiauthoritarianism mahasiswa Amerika dan kecenderungan mereka untuk melakukan hal-hal cara mereka sendiri memiliki terbalik: hal itu menumbuhkan kreativitas pada siswa cerah.

Jepang telah terkenal berhasil di pasar perangkat lunak, dalam kontras yang ditandai dengan keberhasilan dalam perangkat keras komputer. Perbedaannya adalah antara perusahaan yang membutuhkan kreativitas dan satu yang terutama masalah kompetensi di bidang teknik dan pemasaran.

Dalam bab ini, juga, Goleman menjelaskan “tes marshmallow,” yang telah menjadi dikenal luas karena dikutip di hampir setiap review buku ini. Dalam studi ini, oleh psikolog Walter Mischel, kelompok empat-year-olds disajikan dengan pilihan antara marshmallow tunggal langsung atau dua marshmallow setelah menunggu sebentar. Pemeriksa meninggalkan ruangan selama lima belas sampai dua puluh menit, meninggalkan anak sendirian dengan marshmallow tunggal. Sebuah studi lanjutan lebih dari satu dekade kemudian oleh seorang psikolog, Phil Peake, menunjukkan bahwa kemampuan untuk menunda kepuasan untuk marshmallow tambahan berkorelasi lebih baik dengan nilai SAT daripada IQ diukur pada usia empat. Hal ini mungkin disebabkan, sebagian, dengan kenyataan bahwa IQ tes yang dirancang untuk anak-anak muda sangat berbeda dari kertas dan pensil tes seperti SAT dan hanya cukup berkorelasi dengan mereka, tetapi percobaan ini mendukung titik Goleman tentang pentingnya diri -disiplin dan peristence.

Selain itu, sebagai kontrol impuls telah terbukti menjadi fungsi kemampuan kognitif, tidaklah mengherankan bahwa ia harus berkorelasi baik dengan skor SAT.

Bagian berikut ini diambil dari Bias dalam Pengujian Mental, oleh Dr Arthur Jensen (hal. 618):

Refleksi-impulsif, sebagai suatu sifat, biasanya diukur dengan menggunakan Uji Pencocokan Gambar Akrab Kagan (MFFT). Dalam tes ini, subjek diminta untuk menandai angka satu, keluar dari serangkaian jebakan yang sangat yang serupa, yang secara sempurna cocok dengan “target” angka.

Literatur tentang refleksi-impulsif secara komprehensif ditinjau oleh Messer (1976). Impulsif yang diukur dengan MFFT menunjukkan korelasi rata-rata sekitar 30 -. dengan nilai tes IQ berbagai, dan korelasi akan jauh lebih tinggi [nilai absolut] ketika dikoreksi untuk redaman, sebagai nilai MFFT hanya tes-tes ulang moderat kehandalan.

Pada akhir Bab 5, Goleman mencurahkan beberapa halaman untuk diskusi tentang “aliran.”

Mampu memasuki aliran kecerdasan emosional yang terbaik; aliran mungkin merupakan yang paling dalam harnassing emosi dalam pelayanan kinerja dan belajar. Dalam aliran emosi tidak hanya terkandung dan disalurkan, namun positif, bersemangat, dan selaras dengan tugas di tangan. Untuk menjadi terjebak dalam kebosanan depresi atau kecemasan agitasi harus dilarang dari aliran. Namun aliran (atau microflow ringan) adalah sebuah pengalaman hampir semua orang masuk dari waktu ke waktu, terutama ketika tampil di puncak mereka atau peregangan melampaui batas mantan mereka. Hal ini mungkin paling ditangkap oleh bercinta gembira, penggabungan dari dua menjadi satu mulus harmonis.

Pengalaman itu adalah salah satu yang mulia: ciri khas aliran adalah perasaan kegembiraan spontan, bahkan pengangkatan. Aliran becuse terasa begitu baik, itu secara intrinsik bermanfaat. Ini adalah keadaan di mana orang menjadi benar-benar tenggelam dalam apa yang mereka lakukan, membayar perhatian penuh untuk tugas itu, kesadaran mereka bergabung dengan tindakan mereka. Memang, itu menyela aliran untuk merefleksikan terlalu banyak pada apa yang terjadi-sangat berpikir “aku melakukan ini luar biasa” dapat mematahkan perasaan aliran. Perhatian menjadi begitu terfokus bahwa orang sadar hanya kisaran sempit persepsi terkait dengan tugas mendesak, kehilangan jejak waktu dan ruang. Seorang ahli bedah, misalnya, mengingat sebuah operasi yang menantang selama dia berada di aliran; ketika ia menyelesaikan operasi ia melihat reruntuhan beberapa di lantai ruang operasi dan bertanya apa yang terjadi. Dia terkejut mendengar bahwa sementara ia begitu maksud pada bagian operasi langit-langit telah ambruk-ia tidak menyadari sama sekali.

Arus adalah keadaan lupa diri, kebalikan dari perenungan dan khawatir: bukannya hilang dalam keasyikan saraf, orang-orang di aliran begitu terserap dalam tugas di tangan bahwa mereka kehilangan semua kesadaran diri, menjatuhkan kecil keasyikan kesehatan, tagihan, bahkan melakukan baik kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian ini saat-saat aliran egoless. Paradoksnya, orang-orang di aliran menunjukkan kontrol mengagumkan dari apa yang mereka lakukan, respons mereka sempurna selaras dengan tuntutan perubahan tugas. And although people perform at their peak while in flow, they are unconcerned with how they are doing, with thought of success or failure—the sheer pleasure of the act itself is what motivates them.

Kemampuan untuk berkonsentrasi adalah penting untuk sukses di hampir semua bidang. Konsentrasi tergantung pada hubungan emosional dengan objek yang perhatian difokuskan dan kemampuan untuk menyaring gangguan, “melupakan diri” mengurangi kualitas seseorang perhatian daripada meningkatkan itu. Bandingkan kutipan berikut dari In Search dari ajaib (sekali lagi mengutip Ouspensky Gurdjieff):

“‘Identifikasi’ begitu umum kualitas yang untuk tujuan pengamatan sulit untuk memisahkan dari segala sesuatu yang lain. Manusia selalu dalam keadaan identifikasi, hanya subjek perubahan identifikasi.

“Seorang pria mengidentifikasi dengan masalah kecil yang dihadapi dan dia benar-benar melupakan tujuan besar dengan mana ia memulai karyanya. Ia mengidentifikasi dengan satu pikiran dan melupakan pikiran-pikiran lain, ia diidentifikasikan dengan satu perasaan, dengan satu suasana hati, dan melupakan pikiran-pikirannya sendiri lebih luas, emosi, dan suasana hati. Dalam pekerjaan pada diri mereka sendiri begitu banyak orang identifed dengan tujuan terpisah yang mereka gagal untuk melihat pohon-pohon kayu untuk. Dua atau tiga pohon terdekat dengan mereka untuk mereka mewakili seluruh hutan.

“‘Mengidentifikasi’ adalah salah satu musuh kita yang paling mengerikan karena menembus mana-mana dan menipu seorang pria pada saat ketika tampaknya bahwa dia sedang berjuang dengan itu. Hal ini terutama sulit untuk membebaskan diri dari mengidentifikasi karena seorang pria secara alami menjadi lebih mudah diidentifikasi dengan hal-hal yang paling menarik baginya, yang dia memberikan waktu, karyanya, dan perhatiannya. Dalam rangka untuk membebaskan dirinya dari mengidentifikasi seorang pria harus selalu waspada dan tanpa ampun dengan dirinya sendiri, yaitu, ia tidak boleh takut melihat semua bentuk halus dan tersembunyi yang mengidentifikasi membutuhkan.

“Hal ini diperlukan untuk melihat dan mempelajari mengidentifikasi ke akar yang sangat dalam diri sendiri. Kesulitan berjuang dengan mengidentifikasi masih jauh meningkat oleh kenyataan bahwa ketika orang mengamati hal itu dalam diri mereka menganggapnya suatu sifat yang sangat baik dan memanggil ‘antusiasme,’ itu ‘semangat,’ gairah, ” ‘spontanitas,’ ‘inspirasi,’ dan nama semacam itu, dan mereka menganggap bahwa hanya dalam keadaan dapat mengidentifikasi pria benar-benar menghasilkan karya yang bagus, tidak peduli dalam apa bola. Pada kenyataannya dari program ini adalah ilusi. Manusia tidak dapat melakukan apa-apa ketika masuk akal ia dalam keadaan mengidentifikasi. Jika orang bisa melihat apa keadaan mengidentifikasi berarti mereka akan mengubah pendapat mereka. Seorang pria menjadi hal, sepotong daging, ia kehilangan bahkan kemiripan kecil manusia bahwa ia telah. Di Timur di mana orang merokok ganja dan obat lain sering terjadi bahwa seorang pria menjadi begitu diidentifikasi dengan pipa bahwa ia mulai menganggap dia adalah pipa sendiri. Ini bukan lelucon, tapi kenyataan. Dia benar-benar menjadi pipa. Ini adalah mengidentifikasi.Dan untuk ini, ganja atau opium sepenuhnya tidak perlu. Lihatlah orang di toko, di bioskop, di restoran, atau melihat bagaimana mereka mengidentifikasi dengan kata-kata ketika mereka berdebat tentang sesuatu atau mencoba untuk membuktikan sesuatu, khususnya sesuatu yang mereka tidak tahu sendiri. Mereka menjadi keserakahan, keinginan, atau kata-kata; dari diri mereka sendiri tak ada yang tersisa “.

Dalam Bab 7, “The Roots of Empati,” tulis Goleman:

Dalam tes dengan lebih dari tujuh ribu orang di Amerika Serikat dan delapan belas negara-negara lain, manfaat yang dapat membaca perasaan dari isyarat nonverbal termasuk yang lebih baik disesuaikan emosional, lebih populer, lebih keluar, dan-mungkin tidak mengejutkan-lebih sensitif. Secara umum, perempuan lebih baik daripada pria ini semacam empati. Dan orang-orang yang kinerjanya membaik selama empat puluh lima menit tes-tanda bahwa mereka memiliki bakat untuk mengambil empati keterampilan juga memiliki hubungan yang lebih baik dengan lawan jenis. Empati, itu seharusnya tidak mengejutkan untuk belajar, membantu dengan kehidupan romantis.

Sesuai dengan temuan tentang unsur-unsur lain dari kecerdasan emosional, hanya ada hubungan yang insidental antara skor pada ini mengukur ketajaman empatik dan SAT atau skor IQ atau tes prestasi sekolah.

Berikut Goleman menunjukkan apresiasi terhadap emosi sebagai alat pengetahuan. Kecerdasan emosional dalam arti ini adalah benar-benar independen dari IQ.

Goleman menulis:

Lama tanpa memerlukan penyelarasan antara orangtua dan anak mengambil tol emosi yang luar biasa pada anak. Bila orangtua secara konsisten gagal untuk menunjukkan empati dengan berbagai emosi tertentu pada anak-kegembiraan, air mata, perlu dipeluk-anak mulai menghindari mengekspresikan, dan bahkan mungkin perasaan, emosi-emosi yang sama. Dengan cara ini, mungkin, rentang seluruh emosi dapat mulai dilenyapkan dari repertoar untuk hubungan intim, terutama jika melalui masa kanak-kanak perasaan terus diam-diam atau terang-terangan berkecil hati.

KELEBIHAN & KEKURANGAN  BUKU

Keunggulan:

  1. Bahasa dalam buku ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
  2. Dapat mengembangkan dan memperkuat kecerdasaan dan keterampilan emosi seseorang.
  3. Menerangkan secara detail proses-proses yang terjadi di dalam tubuh kita termasuk organ-organ yang berkenaan dengan kondisi emosi tertentu.
  4. Menjelaskan bagaimana mengenali diri sendiri dalam berbagai situasi.
  5. Memberikan informasi tentang keberadaan beberapa tahun yang merupakan “umur penentu” di dalam masa pertumbuhan anak yang dapat menentukan masa depan kecerdasan emosionalnya.
  6. Memberitahukan aplikasi kecerdasan emosional.
  7. Memberikan informasi tentang managemen hati dan kepemimpinan.
  8. Menjelaskan keadaan antara emosi dan kesehatan.

Kelemahan:

  1. Desain cover buku ini kurang menarik dan terlalu formal.
  2. Ukuran buku ini agak panjang dan tebal sehingga berat jika dibawa oleh pembaca.

IMG <<– klik link ini untuk gambar buku selanjutnya

RESUME BUKU

Oleh: M. Aqil Syahrian

Judul buku: berkenalan dengan aliran-aliran dan tokoh-tokoh psikologi

Pengarang: Sarlito W. Sarwono

 

APAKAH PSIKOLOGI ITU ?

Secara harfiah psikologi berasal dari dua kata Yunani, yaitu psyche dan logos. Mengenai kata logos, kiranya sudah banyak orang yang tahu bahwa artinya adalah nalar, logika, atau ilmu. Sedangkan kata psyche menurut Oxford Dictionary bahwa kata psyche  mempunyai banyak arti dalam bahasa Inggris yaitu soul, mind, spirit. Dalam bahasa Indonesia ketiga kata bahasa inggris tersebut dapat dicakup dalam satu kata yaitu “jiwa”. Karena itulah dalam bahasa Indonesia kebanyakan orang cenderung mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa. Tetapi kecenderungan ini juga terdapat dalam bahasa Belanda yaitu zielkunde, dalam bahasa Jerman seelekunde, dalam bahasa Arab ilmun-nafsi, yang semuanya tidak lain artinya adalah ilmu jiwa.

Carl Gustav Jung, seorang tokoh psikoanalisa dari Swiss (1875-1961) mencoba mencari arti-arti dari kata psyche dan arti kata-kata lain yang berdekatan dan mencoba menghubungkan arti kata-kata itu. Misalnya, kata anemos dalam bahasa Yunani yang berarti angin, sedangkan dalam bahasa Latin kata-kata animus dan anima masing-masing berarti jiwa dan raga. Di pihak lain kata Yunani psycho berarti juga meniup. Dalam bahasa Arab ia mendapatkan bahwa kata-kata ruh dan rih masing-masing berarti jiwa atau nyawa dan angin. Dengan demikian ia menduga adanya hubungan antara apa yang bernyawa dengn apa yang bernafas (angin), jadi psikologi adalah ilmu tentang sesuatu yang bernyawa.

Bertitik tolak dari anggapan bahwa psikologi haruslah selalu mempelajari sesuatu yang nyata (konkret), maka ada sementara sarjana yang mengartikan psikologi sama dengan karakterologi atau tipologi, namun pendefinisian tersebut terlalu sempit karena psikologi bukan hanya mencakup kedua hal itu saja. Titik tolak lain dalam pendefinisian psikologi adalah anggapan bahwa jiwa selalu diekspresikan melalui jiwa tau badan. Karena itu psikologi kadang-kadang juga diartikan ilmu ekspresi. Definisi ini sebagian benar, tetapi sebagian juga tidak benar. Adalah benar bahwa kita bisa mempelajari jiwa manusia melalui ekspresi-ekspresinya. Di pihak lain mempelajari jiwa selalu melalui ekspresinya juga tidak mungkin, karena selain ekspresi-ekspresi langsung yang menggambarkan keadaan jiwa, ada juga ekspresi-ekspresi yang tidak langsung, selain itu satu macam ekspresi dapat mewakili berbagai macam keadaan jiwa.

Satu lagi definisi tentang psikologi, yaitu psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku. Pengertian tingkah laku jelas sudah jauh lebih nyata dari pada pengertian jiwa. Tingkah laku dapat dibuktikan dengan nyata, dapat dihitung dan dapat diukur secara objektif. Jadi definisi psikologi sebagai ilmu tentang tingkah laku sudah lebih memenuhi syarat ilmu pengetahuan. Namun tingkah laku di sini adalah tingkah laku yang khas dalam psikologi yang membedakan tingkah laku yang dipelajari pada ilmu yang lain.

Suatu prinsip yang mutlak dalam psikologi, yaitu tingkah laku merupakan ekspresi dari jiwa. Karena itu ekspresi mempunyai peranan yang penting dalam psikologi, sekalipun tidak semua yang terdapat dalam jiwa diekspresikan dalam tingkah laku. Ekspresi itu terbagai dalam tiga macam :

  1. Ekspresi verbal, yaitu pernyataan keadaan jiwa melalui kata-kata
  2. Ekspresi grafis, yaitu pernyataan melalui lukisan, coretan, tulisan
  3. Ekspresi motoris, pernyataan melalui perbuatan, tindakan, gerakan (disebut juga ekspresi kinestesis).

 

SKEMA SEJARAH PSIKOLOGI

Dalam garis besarnya, sejarah psikologi dapat dibagi dalam dua tahap utama, yaitu masa sebelum dan sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Kedua tahap itu dibatasi oleh berdirinya laboratoriun psikologi yang pertama di Leipzig pada tahun 1879 yang didirikan oleh Wilhelm Wundt. Sebelum 1879 itu psikologi masih dianggap sebagai bagian dari ilmu filsafat atau ilmu faal, karena psikologi masih dibicarakan dari kedua bidang ilmu tersebut yang mempunyai minat terhadap gejala jiwa, dan penyelidikannya masih terlalu dikaitkan oleh kedua bidang ilmu tersebut. Barulah ketika Wundt berhasil mendirikan psikologi penyelidikan gejala-gejala kejiwaan dilakukan lebih sistematis dan objektif. Metode-metode baru ditemukan untuk mengadakan pembuktian-pembuktian nyata dalam psikologi sehingga lambat laun dapat disusun teori-teori psikologi yang terlepas dari dari ilmu-ilmu induknya. Sejak itu pulalah psikologi mulai bercabang-cabang ke dalam aliran-aliran, seperti aliran strukturalis, fungsionalisme, behaviorisme dan sebagainya adalah aliran-aliran yang tumbuh setelah lahirnya laboratorium pertama di Leipzig tersebut.

Minat untuk menyelidiki gejala kejiwaan sudah lama sekali ada di kalangan umat manusia. Dimulai oleh para ahli filsafat di zaman Yunani kuno, pada waktu itu belum ada pembuktian secara empiris, melainkan segala teori berdasarkan argumentasi-argumentasi logis (akal) belaka. Tokoh-tokoh filsafat Yunani kuno yang banyak mengemukakan teori-eori psikologi antara lain adalah Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Berabad-abad setelah itu, psikologi masih juga merupakan bagian dari filsafat, antar lain di Prancis muncul Rene Descartes (1596-1650), dan di Inggris  muncul tokoh-tokoh seperti John locke (1623-1704), George Barkeley (1685-1753), James Mill (1773-1836), dan anaknya John Stuart Mill (1806-1873) yang semuanya itu dikenal sebagai tokoh-tokoh aliran asosiasionisme.

Sementara itu para ahli ilmu faal juga mulai menaruh minat pada gejala-gejala kejiwaan. Mereka melakukan eksperimen-eksperimen dan mengemukakan teori-teori untuk perkembangan psikologi selanjutnya. Teori-teori yang dikemukakan berkisar tentang syaraf-syaraf sensoris dan syaraf motoris, pusat-pusat sensoris dan motoris di otak, dan hukum-hukum yang mengatur bekerjanya syaraf-syaraf tersebut. Tokoh-tokoh dari ilmu faal ini antara lain adalah C. Bell (1774-1842), F. Magendie (1785-1855), J.P. Muller (1801-1858), P. Broca (1824-1880), I.P. Pavlov 91849-1936), William McDougall (1871-1938) dan sebagainya.

Selain para ahli filsafat dan ilmu faal, ada juga orang-orang yang mencoba menerangkan gejala-gejala jiwa secara spekulatif dan bersifat ilmiah semu (pseudo science). Salah satu dari mereka adalah F.J. Gall (1785-1828) yang mengemukakan bahwa jiwa manusia dapat diketahui denga cara meraba tengkorak kepala orang yang bersangkutan yang kenal dengan nama “ phrenologi”. Disamping itu ada juga palmistri (ilmu rajah tangan), astrologi (ilmu perbintangan), numerologi (ilmu angka-angka) dan sebagainya.

Tahun 1879 adalah yang sangat penting dalam sejarah psikologi. Pada tahun inilah W. Wundt (1832-1920) mendirikan laboratorium psikologi yang pertama kali di Leipzig yang dianggap sebagai pertanda berdiri sendirinya psikologi sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu induknya. Wundt dikenal sebagai seorang yang menganut strukturalisme, elementisme dan asosiasionisme.

Ajaran-ajaran Wundt dibawa ke Amerika oleh E.B Titchener (1867-1927) tetapi tidak direspon positif. Orang-orang Amerika kemudian membentuk aliran sendiri yang disebut fungsionalisme dengan tokoh-tokohnya antara lain william James (1842-1910) dan J.M Cattel (1866-1944). Aliran ini lebih mengutamakan mempelajari fungsi-fungsi jiwa daripada mempelajari strukturnya.

Sementara di Jerman ajaran-ajaran Wundt mendapat kritik dan koreksi. O. Kulpe (1862-1915), salah seorang murid Wundt yang kurang puas dengan ajaran Wundt dan memisahkan diri dari wundt dan mendirikan alirannya sendiri yang dikenal dengan aliran Wurzburg. Aliran ini menolak anggapan Wundt bahwa berpikir itu selalu berupa image (bayangan dalam alam pikiran), Kulpe mengemukakan bahwa ada pikiran yang tidak berbayangan (imageless thought).

Reaksi lain terhadap Wundt di Eropa datang dari aliran psikologi Gestalt. Aliran ini menolak ajaran elementisme dari Wundt dan berpendapat bahwa gejala kejiwaan (khususnya persepsi) haruslah dilihat sebagai keseluruhan yang utuh. Tokoh-tokoh dari aliran ini adalah M. Wertheimer (1880-1943), K. Koffka 91886-1941) dan W. Kohler (1887-1967). Aliran ini berkembang lebih lanjut dengan melalui tokohnya Kurt Lewin (1890-1947) yang membawa aliran ini ke Amerika Serikat. Perkembangan psikologi Gestalt setelah berjumpa dengan aliran behaviorisme di Amerika Serikat, melahirkan aliran Psikologi Kognitif dengan tokoh-tokohnya antara lain F. Heider dan L. Festinger. Aliran ini mempelajari hal-hal yang terjadi dalam alam kesadaran (kognisi) dan besar pengaruhnya dalam cabang psikologi sosial.

Dua aliran yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat yaitu behaviorisme dan psikoanalisis dianggap terlalu memandang manusia hanya dari satu segi saja. Behaviorisme dianggap memandang manusia hanya sebagai makhlik refleks, sementar psikoanalisis hanya memandang mausia sebagai makhlk yang dikendalikan oleh ketidaksadarannya. Krena itu muncul aliran Psikologi Holistik atau humanistik dengan tokoh-tokohnya antara lain Abraham Maslow (1908-1970) dan carl Rogers (1902-1987). Aliran ini memandang manusia sebagai keseluruhan dan memandang manusia sebagai manusia itu sendiri.

PSIKOLOGI SEBAGAI BAGIAN DARI FILSAFAT

Masa Yunani Kuno

Para pemikir di masa Yunani Kuno telah tertarik pada gejala-gejala kejiwaan. Mereka mencoba menerangkan gejala-gejala kejiwaan dengan cara pendekatan naturalistik. Beberapa pemikir yunani kuno yang menggunakan cara pendekatan naturalisti ini antara lain:

Thales (624-547 SM): Thales sering disebut sebagai “bapak filsafat”. Ia yakin bahwa jiwa dan hal-hal supranatural lainnya tidak ada, karena gejala sesuatu yang ada harus dapat diterangkan dengan gejala alam (natural phenomena) dan ia percaya bahwa segala sesuatu yang ada harus berasal dari air. Karena jiwa tidak berasal dari air, maka jiwa dianggapnya tidak ada.

Anaximander (610-546 SM): dia mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari sesuatu yang tidak tentu.

Anaximenes (abad ke-6 SM): segala sesuatu berasal dari udara.

Empedocles (493-433 SM): Bahwa ada 4 elemen dasar dalam alam semesta, yaitu: tanah, air, udara, dan api. Bahwa tubuh manusia terdiri dari tulang, otot, dan usus, yang merupakan unsur dari tanah, sedangkan cairan tubuh merupakan unsur air. fungsi rasio dan mental manusia berasal dari unsur api. Unsur udara merupakan pendukung dari elemen-elemen atau fungsi hidup.

Democritus (460-370 SM): Seluruh realitas yang ada di dunia ini terdiri dari partikel-partikel yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Jiwa manusia yang merupakan bagian dari realitas dunia juga terdiri dari partikel-partikel.

Hippocrates (460-377 SM): tokoh dikenal sebagai “bapak kedokteran”, mengatakn bahwa manusia dapat dibagi-bagi dalam empat golongan berdasarkan temperamennya.

  1. Sanguine: orang yang terlalu banyak atau ekses darah mempunyai temperamen penggembira.
  2. Melankolik: terlalu banyak sum-sum hitam, bertemperamen pemurung
  3. Kholerik (choleric); terlalu banyak sumperm-sum kuning dalam tubuh, bertemperamen bersemangat dan gesit.
  4. Phlegmatik: terlalu banyak lender dalam tubuh, bertemperamen lender.

Socrates (469-399 SM): pada diri setiap manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dalam dunia nyata. Kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa dalam dirinya terpendam jawaban bagi persoalan yang dihadapinya.

Plato (427 – 347 SM): Psyche atau jiwa manusia terdiri dari : logisticon (berpikir), berpusat di otak; Thumeticon (berkehendak) berpusat di dada; dan Abdomen (berkeinginan), berpusat di perut. Dia juga mengatakan jiwa manusia telah ada, yaitu di alam ide, sebelum manusia dilahirkan.

Aristoteles (384 – 322 SM): Bahwa sesuatu yang berbentuk kejiwaan (form) harus menempati wujud tertentu (matter). Wujud merupakan ekspresi dari jiwa. Taraf hidup terdiri dari tiga tingkatan, yaitu : Anima Vegetativa yaitu taraf hidup yang ada pada tumbuh-tumbuhan.  Anima Sensitiva yaitu taraf hidup yang terdapat pada hewan. Anima intelektiva yaitu taraf hidup yang terdapat pada manusia.

Psikologi dalam pandangan tokoh-tokoh Gereja

St. Augustin (354-430 SM): manusia pada dasarnya bersumber pada alam. Dalam diri manusia sudah diberi dua dorongan, yaitu dorongan jahat dan dorongan baik.

St. Thomas Aquinas (1225-1274): manusia melakukan sesuatu atas dasar pilihan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan. Dalam perbuatan memilih ini, maka akallah yang memegang peranan penting.

Psikologi dalam Masa Renaisans

Francis Bacon (1561-1626): ia menolak pandangan yang rasionalistis yang menganggap bahwa rasiolah yang penting dalam ilmu pengetahuan. Ia mengemukakan metode induktif dalam ilmu pengetahuan, yaitu suatu metode untuk mencari kebenaran yang umum dengan mempelajari beberapa hal atau sejumlah hal yang khusus.

Rene Descartes (1596-1650): Psikologi adalah ilmu yang mempelajari kesadaran. Rene Descartes juga berpendapat bahwa ada dua macam tingkah laku, yaitu tingkah laku mekanis yang terdapat pada semua hewan dan sebagian dari tingkah laku manusia, dan tingkah laku rasional yang hanya trdapat pada manusia.

Thomas Hobbes (1588-1679): ddalam teori mekanisnya ia membedakan antara dasar dabn tujuan dari tingkah laku. Dua motivasi dasar dari tingkah laku adalah selera atau nafsu untuk mendekati sesuatu (appetite) dan kecenderungan untuk membenci atau meninggalkan suatu (eversion).

Masa titik terang dalam psikologi

John Locke (1623 – 1704): Pada saat baru dilahirkan, jiwa manusia dalam keadaan kosong dan pengalamanlah yang akan mengisi kekosongan tersebut. Jiwa manusia dihubungkan dengan dunia luar oleh panca indera. Setiap tingkah laku pada dasarnya merupakan hasil belajar sehingga dapat diubah melalui pengalaman yang baru

Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716): berusaha menerangkan hubungan antara badan dan jiwa dengan mengemukakan teori kesejajaran psikofisik (psychopysical parallelism), bahwa badan dan jiwa masing-masing berdiri sendiri, tetapi keduanya tunduk pada hokum-hukum yang serupa.

George Barkeley (1685-1753): segala sesuatu bukanlah berasal dari wujud atu objek yang dipersepsikan dan mempengaruhi timbulnya ide, tetapi justru idelah yang mempengaruhi objek atau wujud. Kebenaran adalah persepsi, yang berarti bukan objeknya yang benar, melainkan persepsinyalah yang benar.

Aliran Asosiasionisme

James Mill (1773-1836): James menulis buku mengenai psikologi yang berjudul : An Analysis of the Phenomena of the Human Mind. Mill membedakan antara penginderaan 9sensation) dan ide. Penginderaan adalah hasil kontak langsung alat indera manusia dengan rangsangan-rangsangan yang datang di luar dirinnya. Ide adalah semacam salinan (copy) dari penginderaa itu yang muncul dalam ingatan seseorang.

John Stuart Mill (1806-1873): pandangan-pandangannya yang berbeda dari ayahnya Jmes Mill, antara lain :

  1. Penginderaan dan ide adalah dua hal yang bias dibedakan dan bias dipisahkan. Idelah yang lebih penting daripada penginderaan.
  2. Ada tiga hukum asosiasi: similaritas, kontiguinas dan intensitas
  3. Ide gabungan (coumpound idea) bukan sekedar penjumlahan dari ide-ide simple saja
  4. Dalam mengemukakan ajaran-ajarannya, J.S Mill lebih banyak mendasarkan dari pada eksperimen-eksperimen.

Usaha menerangkann psikologi secara ilmiah

Beberapa ilmu semu (pseudo science) yang menerangkan gejala kejiwaan yang masih kuat pengaruhnya sampai sekarang antara lain adalah:

  1. Phrenologi: jiwa manusia dapat diketahui denga cara meraba tengkorak kepala orang yang bersangkutan . Salah satu tokohnya adalah Franz Joseph Gall (1758-1828), seorang dokter dan profesor anatomi dari Wina, percaya bahwa jiwa terbagi-bagi ke dalam 42 bagian atau fakultas, seperti ingatan, kemarahan, dorongan menghancurkan, penglihatan, kesadaran akan waktu, harga diri dan sebagainnya.
  2. Phisiognomi: keperibadian seseorang dicerminkan dari raut mukanya. Salah satu tokohnya adalah Cesare Lombroso (1835-1909) percaya bahwa sifat-sifat orang sudah diberi sejak lahir dan tidak akan berubah-ubah lagi dalam hidupnya.
  3. Mesmerisme: pada perkembangan lebih lanjut, teknik magnetism atu mesmerisme ini diberi nama hipnotisme oleh seorang dokter brnama James Braid (1795-1860). Hipnotisme ini kelak melalui Jean Martin Charcot (1825-1893) diajarkan kepada Sigmund Freud (1856-1939) yang kemudian mengembangkan teori psikoanalisa.

Ilmu-ilmu semu lainnya :

-Palmistri atau rajah tangan, yaitu teknik mengenali kepribadian seseorang melalui rajah tangannya.

-Astrologi atau ilmu perbintangan (horoskop), ialah ilmu tentang pengaruh peredaran bintang-bintang terhadap kepribadian

-Numerologi, ialah ilmu yang mempelajari pengaruh angka-angka terhadap kepribadian manusia.

 

 

PSIKOLOGI SEBAGAI BAGIAN DARI ILMU FAAL

Sir Charles Bell (1774-1842): terkenal sebagai ahli bedah, ahli anatomi dan ilmu faal. Ia terkenal dengan penemuan-penemuan tentang susunan syaraf. Adapun penemuannya bersama Magendie adalah bahwa dalam tubuh manusia terdapat dua macam syaraf, yakni syaraf sensoris yaitu syaraf yang menghantarkan impuls-impuls yang diperoleh dari reseptor (jaringan penerima rangsang) ke susunan syaraf pusat dan syaraf motoris yaitu syaraf yang menghantarkan impuls-impuls yang berasal dari susunan syaraf pusat ke efektor.

Francois Magendie (1783-1855): Magendie, menemukan bahwa di samping syaraf sensoris dan motoris, masih ada lagi syaraf majemuk, yaitu syaraf yang berisi syaraf sensoris dan motoris sekaligus. Penemuan lain dari Magendie adalah hukum “satu arah” dalam susunan syaraf (the law of forward direction). Hukum itu mengatakan bahwa konduksi dalam syaraf secara normal hanya berjalan searah, jadi tidak bolak-balik.

Marshall Hall (1790-1857): Hall adalah seorang dokter yang cerdas dan melakukan penelitian mengenai refleks. Hall mengatakan bahwa refleks hanya tergantung pada syaraf tulang punggung (spinal cord) dan tidak dipengaruhi oleh otak.

Johannes Peter Muller (1801-1858): J.P. Muller terkenal dengan hukum “energi spesifik”-nya yang berbunyi : pada setiap indera hanya terjadi satu jenis penginderaan, tidak tergantung dari jenis rangsangannya dan seterusnya.

Paul Broca (1824-1880): Paul Broca adalah seorang dokter berkebangsaan Jerman yang terkenal dengan penemuannya yaitu pusat bicara di otak yang kemudian diberi nama: “Pusat Broca”.

G. T. Fritsch (1838-1891) dan E. Hitzig (1838-1907): kedua sarjana ini pada tahun 1870 mengadakan penelitian bersama dan menemukan bahwa pada: “cortex cerebri” (kulit otak) terdapat pembagian wilayah. Dua wilayah itu adalah “gyrus centralis posterior” yang merupskan area sensoris dan “gyrus centralis anterior” yang merupakan are motoris. Kedua wilayah itu dipisahkan oleh sebuah lekukan yang memanjang yang disebut “selcus centralis Rolandi”.

Gustav Theodor Fechner (1801-1887): Dokter dan ahli filsafat ini berpendapat bahwa jiwa identik dengan badan. Pendapatnya ini disebut hipotesa identitas (identity hypothesis) atau pan psychim.

Herman Ludwig Ferdinand von Helmholtz (1821-1894): ia berpendapat bahwa psikologi adalah bagian dari ilmu faal dan ilmu faal adalah adalah bagian dari ilmu alam, karena itu gejala-gejala psikologi harus dapat diterangkan dengan hukum-hukum fisika.

Sir Francis Galton (1822-1911): ia adalah seorang yang menemukan teknik psikometri, yaitu teknik untuk mengukur taraf intelegensi seseorang . sumbangan-sumbangan lain dari galton dalam bidang metodologi psikologi adalah:

  1. Penggunaan kuesioner dalam meneliti imajinasi visual
  2. Menemukan tes asosiasi kata (Word Association Tes)
  3.  Dalam statistika ia menemukan teknik korelasi
  4. Ia mengemukakan bahwa ciri-ciri pikologi dapat diturunkan

Emil Kraepelin (1856-1926): kraepelin terkenal dengan penggolongan penyakit kejiwaan yang disebut psikosis. Ia membagi psikosis dalam dua golongan utama yaitu “dimentia praecox” dan psikosis “manis depresif”.

Ernst kretschmer (1888-1964): Kretschmer mengemukakan bahwa orang normal dapat digolongkan ke dalam beberapa tipe karakter sesuai dengan bentuk tubuhnya. Tipe-tipe itu adalah:

  1. Tipe skizotim, orang yang bertubuh asthenis atau leptosom berkarakter tertutup, introver, berkarakter terpecah dan sebagainya.
  2. Tipe siklotim, orang yang bertubuh piknis berkarakter mudah berubah perasaan dan emosinya.
  3. Tipe viskus, orang yang bertubuh atletis bertemperamen lambat, hati-hati.
  4. Orang yang tidak termasuk salah satu golongan di atas, umumnya bertubuh displastis.

 

 

 

PSIKOLOGI SEBAGAI ILMU YANG BERDIRI SENDIRI

Wilhelm Wundt (1832-1920): Wundt dilahirkan di Neckarau 18 Agustus 1832 dan meninggal di Leipzig 31 Agustus 1920. Ia mula-mula dikenal sebagai seorang filsuf dan ahli hukum. Ialah yang mendirikan laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig pada tahun 1879. Berdirinya laboratorium pertama ini dianggap sebagai titik tolah berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang terpisah dari ilmu-ilmu induknya. Wundt sendiri asalnya seorang dokter, tetapi dengan berdirinya laboratorium psikologinya, ia tidak lagi disebut sebagai dokter atau ahli faal, karena ia mengadakan eksperimen-eksperimen dalam psikologi. Wundt sangat dipengaruhi oleh dua orang gurunya, yaitu Helmholtz dan J.P. Muller. Pengaruh kedua orang tersebut nampak pada usaha untuk mengombinasikan filsafat dengan ilmu pasti seperti ditulisnya dalam buku, system of philosophy (1884).

Edward Bradford Titchener (1867-1927): Titchener dilahirkan di Sussex dari keluarga miskin dan tradisional. Dialah yang memperkenalkan ajaran Wundt ke Amerika Serikat. Dalam bukunya, Experimental Psychology, Titchener menegaskan definisi eksperimen menurut Wundt yang menentang eksperimen-eksperimen dengan hewan, orang-orang abnormal dan anak-anak.

Herman Ebbinghaus (1850-1909): Profesor dari universitas Breslau dan halle yang dianggap salah satu pelopor dan pendiri psikologi eksperimen ini dilahirkan di Barmen pada tanggal 24 Januari 1850 dan meninggal di halle, pada tanggal 26 Januari 1909. Ia adalah orang yang pertama melakukan penelitian eksperimental mengenai proses belajar dan ingatan (memory).

Georg Elias Muller (1850-1934): Karya-karya Muller antara lain adalah On the fundamentals of Psychophysic (1878) dan Standpoint and fact of Psycophysical Methodology (1903). Dalam kedua bukunya ini ia menentang hukum Weber-Fechner dan mengemukakan pendapatnya sendiri tentang hukum psikofisik dari hubungan antara persepsi dan rangsangan syaraf (neural stimulation).

Oswald Kulpe (1862-1915): lahir tanggal 3 Agustus 1862 di Canada dan meninggal 30 Desember 1915 di Munich. Delapan tahun ia tinggal di Leipzig sebagai dosen dan asisten Wundt. Pada tahiun 1894 ia menjadi profesoer di Wurzburg dan pada tahun 1896  ia mendirikan laboratorium di Wurzburg dan laboratorium inilah yang kemudian menjadi pusat kegiatan aliran “Psikologi Wurzburg”.

Karl Buhler (1879-1963): Buhler adalah salah atau pendukung aliran wurzburg. Seperti kulpe ia menentang Wundt dan tidak setuju dengan Muller. Ia pun menentang elementisme dan sensualisme. Pendekatannya terhadap masalah jiwa adalah pendekatan holistik. Proses kejiwaan harus didekati, dilihat dan dianggap sebagai suatu keseluruhan atau totalitas (genzeith).  Dari Buhler kemudian muncul aliran psikologi Ganzheit.

FUNGSIONALISME

Fungsionalisme adalah aliran psikologi yang tumbuh di Amerika Serikat yang dipelopori oleh William James. Yang menjadi minat aliran ini adalah apa yang terjadi dalam sebuah aktivitas psikologis dan apa yang menjadi tujuan dari aktivitas itu. Aliran ini mempelajari fungsi tingkah laku atau proses mental, jadi bukan hanya mempelajari strukturnya. Metode yang digunakan oleh aliran fungsionalisme dikenal dengan metode observasi tingkah laku yang terdiri dari dua, yaitu metode fisiologi dan metode variasi kondisi. Di samping metode observasi tingkah laku, aliran fungsionalisme masih menggunakan metode introspeksi, namun hanyalah sebagai pelengkap.

William James (1842-1910): lahir paada tanggal 1 November 1842 di New York City, meninggal pada tanggal 16 Agustus 1910 di Mount Chocura, New Hampshire, Amerika Serikat. Studinya yang utama dalam psikologi ditulisnya dalam buku principles of Psychology (1890) menjadi salah satu dasar yang digunakan oleh psikologi modern. James adalah pelopor psikologi Amerika dan sering disejajarkan dengan Wundt di Jerman. Bersama-sam dengan John Dewey, james mendirikan aliran fungsionalisme dan bersamaan dengan itu James juga merupaka  pendukung aliran evolusionisme.

John Dewey (1859-1952): ia adalah guru besar di universitas Chicago yang pada tahu 1886 menulis buku berjudul psychology. Dalam buku ini ia memperkenalkan cara orang Amerika mempelajari psikologi, yaitu cara yang mengutamakan pragmatisme.

James Rowland Angell (1869-1949): James Rowland Angell adalah tokoh dari aliran fungsionalisme kelompok Chicago. Dibawah kepemimpinannya ia berhasil mempersatukan sarjana-sarjana Chicago, memajukan kelompok Chicago dan menghasilkan 50 orang Ph.D.

James Mckeen Cattel (1860-1944): Cattel adalah tokoh dari aliran fungsionalisme kelompok Columbia. Ia menemukan apa yang dinamakan kapasitas individual. Kemudian Cattel menciptakan alat-alat untuk mengukur kapasitas atau kemampuan individual itu, yang dikenal sebagai psikotes atau mental tes.

Edward Lee Thorndike (1874-1949): Thorndike lahir di Williamsburg tanggal 31 Agustus 1874 dan meninggal di montrose, New york, tanggal 10 Agustus 1949. Ia adalah tokoh lain dari aliran fungsioalisme kelompok Columbia pada tahun 1898 ia menerbitkan bukunya yang berjudul anima Intellegence, an Experimental study of associational Process in Animal. Buku ini merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah laku beberapa jenis hewan yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar, yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak lain adalah asosiasi. Suatu stimulus (S), akan menimbulkan suatu respons (R) tertentu. Teori ini disebut dengan teori S-R.

Robert Sessions Woodworth (1869-1962): Ia lahir pada 17 Oktober 1869 di Balchertown, Massachusetts, dan meninggal pada 4 Juli 1962 di New York. Ia merupakan tokoh lain dari kelompok Columbia dan pernah mendapat mendali emas dari The American Psychological Foundation atas jasa-jasanya mempersatukan dan mengorganisasikan psikologi di Amerika Serikat.

CABANG-CABANG PSIKOLOGI SEBAGAI PERKEMBANGAN DARI

FUNGSIONALISME

Arnold Locius Gesell (1880-1961): Gesell dilahirkan di Alma, Wisconsin, tanggal 21 Juni 1880 dan meninggal di New Haven, connecticut, pada tanggal 29 Mei 1961. Gsell dikenal dengan Bapak Psikologi Anak, tetapi hal ini lebih disebabkan karena inisiatifnya untuk pertama kali mendirikan klinik perkembangan anak daripada teori-teori atau metode-metodenya.

Lewis Madison Terman (1877-1956): Terman lahir di Johnson Country, Indiana, Amerika Serikat, tanggal 15 Januari 1877 dan meninggal di Stanford, tanggal 21 Desember 1956. Terman adalah seorang yang sangat produktif dalam publikasi. Publikasinya mencapai 200 judul dan dia terkenal sebagai orang yang banyak melakukan penelitian dalam bidang pengukuran dan perkembangan intelegensi.

Hendry Alexander Murray (1893-1988): Tahun 1927 ia mencapai gelar Ph.D di harvard, di mana ia mulai tertarik pada psikologi, khususnya psikologi aliran Jung. Tahun 1928 ia menjadi profesor Madya dan direkttur dari harvard Psychological Clinic. Peran Murray dalam psikologi adalah dalam bidang diagnose kepribadian dan teori kepribadian.

Jean Piaget (1896-1980): Ia dilahirkan di Neuchatel, Swiss. Ia adalah tokoh yang sangat penting dalam psikologi perkembangan. Hal-hal yang pernah dipelajari Piaget antara lain adalah perkembangan intelegensi, persepsi, bahasa, moral, kausalitas, ruang, waktu, gerak, logika, epistemologi genetika dan lain-lain.

Louis Leon Thurstone (1887-1955): Thurstone lahir di Chicago, tanggal 29 Mei 1887 dan meninggal di Chapell Hill tanggal 29 September 1955. Pada tahun 1914 ia mulai belajar psikologi di Chicago dan di Institut Teknologi Carnegie. Karena dasar pendidikannya yang berasal dari bidang teknik, maka Thurstone menjadi tokoh dalam bidang psikometri (pengukuran psikologis). Dalam metode psikometrinya Thurstone terkenal dengan cara pendekatan analisa faktor. Ia berkesimpulan bahwa dalam intelegensi tidak ada faktor umum (General factor, atau faktor G), melainkan hanya ada faktor khusus. Ia mengemukakan bahwa ada tujuh faktor khusus yang paling dasar, yang disebut “primary mental abilities” yaitu:

  1. Pengertian verbal (verbal conprehension)
  2. Kemampuan angka-angka (numerical ability)
  3. Kemampuan keruangan (spatial visualization)
  4. Kemampuan penginderaan (perceptual ability)
  5. Ingatan (memory)
  6. Penalaran (reasoning)
  7. Kelancaran kata-kata (word fluency)

Sir Godfrey Hilton Thomson (1881-1955): thomson mengemukakan teori yang disebut “sampling theory” dan mengatakan bahwa prestasi-prestasi kesadaran ditentukan oleh sejumlah besar faktor yang independen, tetapi hanya sejumlah kecil (sample) dari faktor-faktor yang benar-benar operasional dalam saat-saat tertentu. Karya-karyanya antara lain adalah The Essentials of Mental Measurement (1911), The Factorial Analysis of Human Ability (1939).

 

 

REFLEKSISME, PSIKOLOGI PURPOSIF DAN BEHAVIORISME

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936): penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflex). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar.

William McDougall (1871-1938): ia banyak meletakkan dasar-dasar paham behaviorisme, tetapi ia sendiri tidak suka menyebut dirinya pelopor behaviorisme. Ia menamakan ajarannya sebagai psikologi purposif (bertujuan) atau psikologi hormik. McDougall mengemukakan bahwa tingkah laku mempuyai empat ciri:

  1. Spontanitas gerakan
  2. Ketetapan (persintance) dari aktivitas yang tidak tergantung pada situasi-situasi sebelum atau sesudahnya.
  3. Gerakan-gerakan yang berketetapan itu bervariasi dalam tujuannya
  4. Gerakan akan berhenti begitu tercapai perubahan tertentu dalm situasi
  5. Akan terjadi persiapan untuk menghadapi situsi baru sebagai akibat dari aktivitas yang baru berlalu.
  6. Kalau tingkah laku diulangi beberapa kali dalam situasi yang sama, akan terjadi peningkatan efektivitas
  7. Reaksi organisme merupakan suatu totalitas.

John Broadus Watson (1878-1958): Watson berpendapat bahwa psikologi haruslah menjadi ilmu yang objektif, karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya didapat diteliti melalui metode introspeksi.

Edwin Bisell Holt (1873-1946): perananya yang terpenting adalah memberikan landasan-landasan filsafat pada ajaran Watson yang naif, sehingga behaviorisme lebih dapat diterima dan menjadi lebih logis.

Edward Chance Tolman (1886-1959): Ia mengatakan bahwa tingkah laku manusia secara keseluruhan disebut tingkah laku molar. Tingkah laku molar ini terdiri dari tingkah laku-tingkah laku yang lebih kecil yang disebut tingkah laku molekular.

B.F. Skinner (1904-1990): Skinner berpendapat bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh stimulus saja.

TEORI KONVERGENSI DALAM PSIKOLOGI

William Louis Stern (1871-1938): Stern adalah salah satu pelopor dalam psiologi modern dan peranan utamanya terletak dalam kemampuannya untuk menyatukan teori-teori yang saling bertentangan untuk menerangkan tingkah laku. William Stern mendefinisikan psikologi sebagai berikut: “psikologi adalah ilmu tentang individu yang mengalami/menghayati dan individu yang mampu mengalami/menghayati”. Dengan definisi ini ia menjembatani teori-teori dari aliran nativisme dan empirisme. Sedangkan salah satu penemuannya yang sangat penting adalah tentang konsep IQ.

PSIKOLOGI GESTALT

Istilah Gestalt merupakan istilah bahasa Jerman. Arti Gestalt bisa bermacam-macam sekali, yaitu form, shape (dalam bahasa Inggris) atau bentuk, hal, peristiwa, hakikat esensi, totalitas. Adapun ciri-ciri yang khas dari aliran itu, yaitu bahwa psikologi Gestalt mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas dan bahwa data-data adalam psikologi Gestalt disebut sebagai fenomena (gejala).

Franz Brentano (1838- 1917): Franz Brentano adalah perintis dan guru dari tokoh-tokoh psikologi Gestalt. Brentano berpendapat bahwa dasar dari segala tingkah laku kejiwaan (physic acts) adalah persepsi dalam (inner perception), yaitu persepsi yang tidak terbatas pada persepsi oleh indera-indera belaka.

Christian von Ehrenfels (1859-1932): tokoh yang bukan termasuk dalam kelompok aliran psikologi Gestalt sendiri, tetapi ialah yang meletakkan dasar-dasar dari aliran psikologi gestalt yang akan timbul kemudian.

Max Wertheirmer (1880-1943): Wertheirmer dianggap sebagi pendiri Psikologi Gestalt pada tahun 1912, bersamaan dengan keluar kertas kerjanya yang berjudul “Experimental studies of The Perception of movement”. Dalam bukunya Investigaton of Gestalt Theory (1923), Wertheirmer mengemukakan hokum-hukum Gestalt :

  1. Hukum kedekatan: hal-hal yang saling berdekatam dalam waktu atau tempat cenderung dianggap sebagai suatu totalitas.
  2. Hukum ketertutupan: hal-hal yang cenderung menutup akan membentuk kesan totalitas sendiri.
  3. Hokum kesamaan; hal-hal yang mirip satu sama lain, cenderung kita ppersepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas.

Kurt Koffka (1886-1941): sumbangan Koffka dalam psikologi adalah penyajian yang sistematis dan pengalaman dari prinsip-prinsip Gestalt dalam rangkaian gejala psikologi, dari mulai persepsi, belajar, mengingat, sampai kepada psikologi belajar dan psikologi social.

Wolfgang Kohler (1887-1967): Karya Kohler yang paling terkenal adalah penyelidikannya mengenai tingkah laku kecerdasan pada hewan, utamanya pada simpanse.

F. Krueger : pada tahun 1924 Krueger memperkenalkan pada dunia psikologi Ganzheit di Leipzig.

Kurt Lewin (1890-1947): Lewin mempelajari motivasi sejak 1941 dan mengadakan penelitian-penelitian tentang intuisi, harapan, subtitusi dari tugas dan kejenuhan. Dari penelitiannya ia berkesimpulan bahwa persepsi dan tingkah laku seseorang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan (forces) yang ada dalam lapangan psikologis.

PSIKOLOGI KOGNITIF

Psikologi kognitif dikatakan sebagai perpaduan antara Psikologi Gestalt dan psikologi behaviorisme. Psikologi mempelajari bagaimana arus informasi yang ditangkap oleh indera diperoses dalam jiwa seseorang sebelum diendapkan dalam kesadaran atau diwujudkan dalam bentuk tingkah laku reaksi terhadap rangsang.

F. Heider (teori P-O-X): Heider mengemukakan teori yang berpangkal pada perasaan-perasaan yang berada pada seseorang terhadap seseorang yang lain dan sesuatu hal yang lain 9pihak ketiga).

Leon Festinger (Disonasi Kognitif): dalam teori Festinger, sektor0-sektor dalam lapangan kesadaran dinamakan eleme-elemen kognisi. Elemen-elemen kognisi saling berhubungan dan jenis hubungan itu ada tiga macam: (1) hubungan yang tidak relevan (2) hubungan disonan dan (3) hubungan konsonan.

PSIKOANALISA

Franz Anton Mesmer (1734-1815): ia menemukan teknik hipnotisne sebagai penyembuhan orang sakit, tetapi tekniknya waktu itu disebut mesmerisme.

Jean Martin Charcot (1825-1893): sebagai seorang dokter ia mengembangkan teknik hipnose dan sugesti mental untuk menyembuhkan pasien-pasien psikoneurosis khususya penderita histeria.

Pierre Janet (1859-1947): ia mencoba menggolong-golongkan secara sistematis berbagai jenis histeria dan mencari hubungan antara simtom-simtom histeria dengan teori-teori psikologi.

Sigmund Freud (1856-1939): Tokoh pendiri psikoanalisa atau disebut juga aliran psikologi dalam (depth psychology) ini secara skematis menggambarkan jiwa sebagai sebuah gunung es yang terdiri dari tiga bagian yaitu id, ego dan super ego. Menurut Freud segala tingkah laku bersumber pada dorongan-dorongan yang terletak jauh di dalam ketidaksadaran.

Carl Gustaf Jung 91875-1961): keseluruhan kepribadian menurut Jung terdiri dari tiga system yaitu kesadaran, ketidaksadaaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif.

Afred Adler (1870-1937): Ia mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya mempunyai kelemahan organis.

Granvill Stanley Hall (1844-1924): teori Hall yang terkemuka adalah teori evolusi.

Gustav le bon (1841-1931): Le bon lebih banyak membicarakan tingkah laku kelompok dari pada tingkah laku perorangan.

PSIKOLOGI HOLISTIK DAN HUMANISTIK

Menurut aliran ini manusia adalah suatu ketunggalan yang mengalami, mengjayati, dan pada dasarnya aktif, punya tujuan dan harga diri.

Abraham H. Maslow (1908-1970): salah satu teori maslow yang sangat terkenal adalah teori hierarki kebutuhan.

Carl R. Rogers (1902-1987): Ia mengembangkan metode Socrates atau metode maieutics menjadi teknik psikoterapi yang dikenal dengan nama client centered therapy.

PSIKOLOGI DI JERMAN SEBELUM DAN SESUDAH PERANG DUNIA II

Sebelum perang Dunia : aliran-aliran Jerman pada saat itu masih bersifat umum dan bersibuk diri dengan mencari hokum-hukum dan dalil-dalil sebagaimana yang lazim pada ilmu pasti dan ilmu faal.

Perang Dunia II: perkembangan yang sedang menuju puncaknya harus terputus dengan meningkatnya aktivitas partai Nazi.

Pasca Perang Dunia II: selama kekuasaan Nazi, partai Nazi hanya berminat pada psikologi sejauh untuk seleksi personil militer.

Jerman Timur: psikologi di Jerman Timur tidak mengalami perkembangan karena terisolasi dari dunia Barat

Amerika Serikat: masa setelah tahun 1950-an dalam abad XX dalam sejarah psikologi memang menjadi eranya Amerika Serikatkarena menurunnya supremasi Jerman.

PSIKOLOGI DI INDONESIA

Keberadaan psikologi di Indonesia dimulai pada tahun 1952 dan diperkenalkan oleh Slamet Imam Santoso, professor psikiatri di fakultas kedokteran, Universitas Indonesia.

 

KELEBIHAN & KEKURANGAN BUKU

Keunggulan :

  1. Buku ini memberikan penjelasan tentang psikologi secara detail. Mulai dari definisinya, sejarah psikologi dan sebagainya
  2. Ukuran buku ini kecil dan tipis sehingga mudah bagi dibawa dan digunakan oleh pembaca
  3. Judul subbab dari buku ini cukup menarik karena mengundang pembaca untuk mengenal psikologi lebih mendalam.

 

Kelemahan:

  1. Buku ini tidak dilengkapi dengan gambar tentang gambaran psikologi sehingga untuk membacanya sedikit bosan
  2. Bahasa yang digunakan belum baku
  3. Dalam buku ini menggunakan bahasa selingkung, maksudnya masih banyak istilah psikologi yang tidak dimengerti sehingga harus didampingi dengan kamus psikologi.

 IMG_0001 <<— klik link ini untuk gambar buku selanjutnya

RESUME BUKU: DASAR-DASAR RESPONS RELAKSASI

Berbagai macam bentuk relaksasi yang sudah ada adalah relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera, relaksasi meditasi, yoga dan relaksasi hipnosa. Dari bentuk relaksasi di atas belum pernah dimunculkan kajian tentang bentuk relaksasi religius. Relaksasi religius ini merupakan pengembangan metode respon relaksasi dengan melibatkan faith factor dari Benson. Menurut Benson, formula-formula tertentu yang dibaca berulang-ulang dengan melibatkan unsur keimanan kepada agama, kepada Tuhan yang disembah akan menimbulkan respon relaksasi yang lebih kuat dibandingkan dengan sekedar relaksasi tanpa melibatkan unsur keyakinan terhadap hal tersebut. Dalam bukunya, benson mengemukakan bagaimana pentingnya faith factor atau faktor keyakinan dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dalam buku ini di ungkapkan bahwa mereka yang mengembangkan dan memanfaatkan faktor keyakinan secara efektif dapat:

  • Menghilangkan sakit kepala
  • Mengurangi sakit angina pektoris dan bahkan mungkin meniadakan kebutuhan bedah bypass (kira-kira 80% nyeri akibat penyakit ini dapat diobati dengan keyakinan positif)
  • Mengurangi tekanan darah dan membantu mengendalikan masalah-masalah hipertensi.
  • Mempertajam kreativitas, terutama saat mengalami suatu “hambatan mental”.
  • Mengatasi insomnia (sulit untuk tidur)
  • Mencegah serangan hiperventilasi
  • Membantu mengurangi sakit punggung
  • Meningkatkan terapi kanker
  • Mengendalikan serangan panik
  • Menurunkan kadar kolesterol
  • Mengurangi gejala-gejala kecemasan, termasuk mual, muntah, diare, sembelit, cepat marah dan ketidak mampuan untuk bergaul dengan orang lain
  • Mengurangi stress secara keseluruhan dan meraih kedamaian diri dan keseimbangan emosional yang lebih tinggi

 

 

Relaksasi religius merupakan pengembangan dari respon relaksasi yang dikembangkan oleh Benson, dimana relaksasi ini merupakan gabungan antara relaksasi dengan keyakinan agama yang dianut. Dalam metode meditasi terdapat juga meditasi yang melibatkan faktor keyakinan yaitu meditasi transendental (trancendental meditation), dengan megambil objek meditasi frase atau mantra yang diulang-ulang secara ritmis dimana frase tersebut berkaitan erat dengan keyakinan yang dianut.

Fokus dari relaksasi ini tidak pada pengendoran otot namun pada frase tertentu yang diucapkan berulang kali dengan ritme yang teratur disertai sikap pasrah kepada objek transendensi yaitu Tuhan. Frase yang digunakan dapat berupa nama-nama Tuhan, atau kata yang memiliki makna menenangkan.

Pelatihan relaksasi bertujuan untuk melatih peserta agar dapat mengkondisikan diri untuk mencapai kondisi relaks. Pada waktu individu mengalami ketegangan dan kecemasan yang bekerja adalah sistem saraf simpatis, sedangkan pada waktu relaksasi yang bekerja adalah sistem saraf parasimpatis, dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang dan rasa cemas dengan cara resiprok, sehingga timbul counter conditioning dan penghilangan.

Pelatihan relakasi religius cukup efektif untuk memperpendek waktu dari mulai merebahkan hingga tertidur dan mudah memasuki tidur. Hal ini membuktikan bahwa relaksasi religius yang dilakukan dapat membuat lebih relaks sehingga keadaan kesulitan ketika mengawali tidur dapat diatasi dengan treatmen ini. Penggunaan kaset relaksasi religius cukup membantu subjek dalam mengawali tidur. Pada umumnya subjek melaporkan bahwa dengan mengikuti kaset relaksasi dirinya lebih mudah untuk tertidur, ada beberapa hal yang menyebabkan mereka mudah tertidur antara lain instruksi diucapkan dengan pelan dan mudah diikuti. Pelatihan relaksasi dapat memunculkan keadaan tenang dan relaks dimana gelombang otak mulai melambat semakin lambat akhirnya membuat seseorang dapat beristirahat dan tertidur.

 

 

Manfaat Respons Relaksasi:

  1. menghilangkan kelelahan
  2. mengatasi kecemasan
  3. meredakan stres
  4. mengurangi risiko terkena tekanan darah tinggi, pengerasan pembuluh darah, serangan jantung, dan stroke
  5. menghentikan kecenderungan mengonsumsi rokok, minuman beralkohol, dan obat-obatan
  6. membantu tidur nyenyak
  7. mengefektifkan penggunaan energi tubuh
  8. membuat lebih waspada
  9. meneguhkan manfaat metditasi dan doa dalam kehidupan sehari-hari
  10. dapat dipelajari secara mandiri di rumah
  11. dapat digunakan di segala tempat
  12. tidak menimbulkan efek samping
KELEBIHAN & KEKURANGAN BUKU

Keunggulan :

  1. Buku ini menerangkan secara jelas dan singkat tentang berbagai macam bentuk relaksasi.
  2. Buku ini juga menjabarkan manfaat dari relaksasi secara rinci.
  3. Buku ini memberikan contoh dari relaksasi sesuai dengan kehidupan sehari-hari.
  4. Bahasanya cukup menarik minat seseorang untuk membacanya.

 

Kelemahan :

  1. Bahasa yang digunakan dalam buku ini sedikit sulit dimengerti karena bahasa yang digunakan masih asing didengar.
  2. Ada beberapa kalimat yang digunakan tidak efektif.
  3. Ada beberapa kalimat yang maknanya hilang karena susunan kalimatnya kurang jelas.
  4. Dalam buku ini tidak dijelaskan siapa saja yang dapat menggunakan cara relaksasi ini

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s